May 3, 2021

Sekilas Tentang Proses Pengolahan Aspal

 

 

 

Kontraktor jasa pengaspalan jakarta –  Bagi masyarakat awam tentu telah tidak asing lagi dengan benda kenyal berwarna hitam pekat yang dikenal dengan sebutan Aspal (Asphalt) sebab dapat disebutkan setiap hari anda berlalu-lalang di atas jalan raya yang tercipta dari bahan gabungan batu, pasir dan aspal, tapi pengarang yakin bahwa masih tidak sedikit diantara anda yang belum memahami seluk-beluk tentang proses pengilangan dan bahan bakunya apa serta pemakaiannya guna jalan tersebut bagaimana dan sebagainya.

Oleh sebab tersebut pada peluang ini pengarang coba menyampaikan untuk publik tentang proses pengolahan aspal dari bahan baku sampai menjadi aspal siap gunakan dengan asa dapat melengkapi perbendaharaan/pengetahuan anda masing-masing.

Bahan Baku Aspal

Bahan baku Aspal Bitumen dan bitumen tersebut sendiri sebenarnya melulu istilah yang tidak jarang dipergunakan oleh semua geolog sebab bitumen pada dasarnya ialah merupakan gabungan minyak mentah berat dengan hydrocarbon karena kedua jenis benda itu ialah satu senyawa, berisi pasir halus (14-15 derajat API) dan memiliki konsisten cairan “kopi” atau adalahsemacam batubara yang menurut keterangan dari para berpengalaman bahwa bitumen tersebut dapat ditambang dengan metoda “in-site thermal methode.”

Bitumen yang telah diusung kepermukaan bumi lalu diceraikan dari air, pasir halus dan mineral lainnya yang di samping dapat dipakai sebagai bahan baku aspal pun dapat diubah menjadi minyak mentah sintetis yang berkadar tinggi yang dapat diubah dengan metoda kilang konvensional.

Kilang Aspal Pangkalansusu

Untuk mendapatkan cerminan yang lebih jelas lagi mengenai proses pengolahan/pengilangan aspal, maka penulis memusatkan ke Kilang Asphalt Pertamina di Pangkalansusu untuk mengerjakan survei dan pemantauan langsung di kilang tersebut.
Pada kesempatan tersebut penulis pun telah mewancarai Kepala Kilang Asphalt (Asphalt Plant) Pertamina Pangkalansusu yang ketika tersebut dijabat oleh Ismail Syah, BcP. Berdasarkan keterangan dari Ismail, pekerjaan Kilang Asphalt Pangkalansusu baru dibuka pengoperasiannya setelah dilaksanakan perubahan instalasi (modifikasi) pada tahun 1966. Kapasitas terpasang Kilang Aspal ialah 150 ton/hari dan kapasitas aktual 110 ton/hari.

Sebelumnya, masih menurut keterangan dari Ismail, kilang ini pada tahun 1952 sampai 1965 dipakai untuk destilasi minyak mentah menjadi BBM.
Pada mula pengilangan aspal di Lapangan Produksi Pertamina Pangkalansusu bahan bakunya didatangkan dari luar negeri, yakni dari Shell Bukon Refinery Singapura. Tetapi semenjak kilang di Cilacap beroperasi, maka dengan sendirinya bahan baku itu didatangkan dari Cilacap dengan mempergunakan kapal tanker yang lantas dipompakan dan ditampung ke tanki timbun di terminal Pangkalansusu.

Bitumen (BFS/Bitumen Feed Stock) yang terdapat di tanki timbun lantas dialirkan ke Kilang Aspal dan guna seterusnya dipompakan ke Heater (tempat pemanasan) supaya muda disalurkan atau dimasukkan ke Still (semacam bejana).

Di dalam Heater, bitumen tersebut dipanaskan dengan sistem pembakaran dengan gas yang didapatkan dari sumur gas yang ada di Kecamatan Pangkalansusu dengan temperatur berkisar antara 400 sampai 450 derajat Farrenheit guna membuat/mengilangkan kadar air dan unsur lainnya yang redapat dalam persenyawaan bitumen. Sebab bilamana kadar itu tidak dilemparkan atau dibersihkan, maka bobot aspal yang dihasilnya jadi rendah.
Setelah menjangkau suhu 400 sampai 450 derajat Farrenheit, maka bitumen yang mencair tersebut kemudian diproses melewati sistem peranginan (blowing) yakni dengan teknik memasukkan udara (angin) melewati blower (emacam kipas angin besar) ke dalam tabung bejana (still) bersamaan dengan “disuntikkannya” uap air (steam). Proses ini dilangsungkan selama selama 5 hingga 7 jam.

Empat jam sesudah “diangin-anginkan”, maka diambil misal (sample) dari dalam Still untuk dicek di dalam laboratorium untuk diketahui diketahui daya rekatnya dan penetrasi aspal (kekenyalan/kekerasan aspal – bila tanah contohnya CBR nya) apa sudah mengisi syarat atau belum.

Selama blowing berlangsung, ungkap Ismail, terjadilah proses oksidasi di dalam Still sampai-sampai tercipta gas gas SO₂, H₂S dan CO₂. Semetara uap Solar nya dialirkan melewati pipa ke column (semacam bak) guna didinginkan. Sistem pendingan di sini dilaksanakan dengan air. Sedangkan solar bercampur air pendingin ditampung di suatu bak pemisah, dimana air dikoleksi dalam bak penampungan, dan solar ditampung di tanki terpisah. Sementara gas yang tidak “sempat” terkondensir (tersaring) dimasukkan ke Scrubber guna diproses lebih lanjut. Sedangkan gar yang enteng (eks crubber) dilemparkan atau dihanguskan melalui cerobong pembakar (flare) demi guna menghindari terjadinya perusakan (polusi) udara di dekat di sekitaran area kilang.

Sementara aspal yang didapatkan oleh Still lantas dipompakan ke dalam tanki penampungan aspal, namun sebelumnya mesti didinginkan dulu melewati double pipe cooler atau box cooler. Setelah tersebut baru dicek kembali di laboratorium secara lebih seksama lagi oleh semua tenaga berpengalaman Pertamina (bangsa Indonesia). Apabila bobot dan persyaratan aspal telah terpenuhi, maka aspal itu diisikan ke dalam drum aspal yang bahan bakunya diciptakan di dalam negeri, yakni Pabrik Drum Aspal Pertamina di Wonosobo. Sedangkan pengassemblingannya dilaksanakan di Kilang Asphalt Pertamina Pangkalansusu.
Lebih lanjut Ismail menjelaskan untuk penulis, aspal hasil buatan Kilang Asphalt Pangkalansusu mayoritas disalurkan ke Bina Marga Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Aceh. Disamping tersebut juga guna memenuhi keperluan atau pemakaian Pertamina sendiri pun diketahui bahwa Pertamina ada mengemban pengaspalan jalan-jalan di tempat Pertamina (perumahan dsbnya) pun ketika tersebut ada mengerjakan pengaspalan hotmix jalan-jalan umum laksana Kota Pangkalan Brandan, Kota Pangkalansusu, Kota Kuala Simpang dan komplek Pertamina Rantau.

Sedangkan jenis aspal hasil buatan Kilang Asphalt Pangkalansusu merupakan Aspal jenis Pen 60/70 dan Pen 80/100 yang saat tersebut sangat diperlukan dengan sekian banyak macam sistem yang bakal penulis sampaikan di bawah ini.

Cara pemakaian aspal guna jalan

Di samping aspla yang telah kita kenal, masih tidak sedikit nama dan jenis aspal yang dipakai untuk bahan gabungan pengaspalan jalan tergolong landasan balap lapangan terbang, yakni Straight Asphalt, Asphalt Cement dan Pavement Asphalt.

Aspal itu mempunyai berbagai format mulai dari semi padat hingga padat, tergantung dari tipe dan tingkatannya. Tetapi yang dari berbagai format itu, namun teknik pemanfaatan/pemakaiannya tetap melewati tiga sistem utara, yakni : 1. Pemanasan dengan pembakaran kayu dllnya. 2. Pencairan dengan melarutkan di dalam minyak. 3. Pencairan yang dilarutkan di dalam air.

Sedangkan teknik pemakain guna jalan, yakni mencapurkan aspal (menurut keterangan dari ukuran yang dikehendaki), batu kerikil atau batu pecah (split sekian banyak ukuran cocok kebutuhannya) dan pasir. Sementara sistem pengolahannya terdapat yang memakai teknik cold-mix (premix), hotmix (hasil olahan unit Asphalt Mixing Plant) atau menggunakan sistem biasa (sosot berat/coating).

Berdasarkan keterangan dari pengalaman pengarang sewaktu menjadi supervisor di PT Jazacon beralamat di jalan H.Agus Salim, Jakarta perusahaan kontraktor yang bergerak di bidang pengaspalan jalan dan Lapangan Terbang, pembakaran aspal yang terbaik ialah berkisar antara 170-180 derajat celcius atau dengan batas pembakaran satu drum aspal jangan melebihi 5 jam. Apabila urusan ini tidak terpenuhi, maka bakal terjadi kehancuran atau hangus pada lapisan bawah aspal ssehingga daya rekat aspal jadi berkurang bahkan kehangusan struktur kimiawi aspal paling berbahaya untuk kesehatan manusia.
Pengalaman pengarang kian meningkat saat diamanatkan oleh pimpinan untuk memantau dan mengemban perpanjangan landasan balap (runway) Lapangan Terbang Polonia Medan dari 2.500 meter menjadi 3.000 meter sekaligus pengaspalan hotmix, dan peningkatan Taxi way semenjak tahun 1970 sampai 1973.

Pekerjaan memanjangkan landasan balap dan mempertebal lapisan hotmix itu dimaksudkan untuk kebutuhan kedatangan pesawat berbadan lebar Boeing KLM (terbang perdana) guna membawa Jamaah Haji saat itu. Semula pengarang dan rekan2 tergolong direksi perusahaan dan pejabat dari Perhubungan Udara deg deg plas ketika di atas ujung landasan terlihat pesawat KLM yang siap mendarat, tetapi alhamdulillah….. kesudahannya pesawat KLM sukses mendarat dengan mulus. Kami seluruh saling bersalaman. Sampai disini pengarang akhiri artikel ini. Semoga terdapat manfaatnya.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *